DISQUS

Setengah Mateng!: Mitos Transportasi Udara Di Indonesia (Pesawat Tua, dan lainnya)

  • zee · 9 months ago
    wah wah wah kayaknya serius nih.
    Terlepas dari pendapat saya pribadi sendiri ttg kenapa transportasi udara di Indonesia ini kacau balau, menurut saya postingan ini oke banged. Jarang ada yang berpikiran dari sisi seberang spt ini, karena umumnya kita memberikan cerita ke masyarakat utk kejar oplah, kejar uang, mau membodohi kek, nipu kek, itu urusan belakangan.
    Skrg sbnrnya tiap person harus bisa memilah dan menyaring informasi mana yg bisa diterima.
    I think everybody must read this post.. let's think positive, right?
  • snydez · 9 months ago
    umm.. yang gue takutin sih teknisi indonesia yang nanganin pesawatnya..
    *menilik dari misalnya teknisi apapun di indonesia yang setelah melepas baut, ketika memasang kembali masih ada sisa (bautnya).
  • gagahput3ra · 9 months ago
    Hahaha....iya mas...saya juga jadi ikut khawatir nih jadinya. :D Tapi kalo yg saya tahu sih dari baca2 pengalaman tekhnisi2 penerbangan di Indoflyer, masalah kesalahan penanganan pesawat itu masalah kecelakaan yang jarang terjadi karena ada standar ketat di penerbangan, dan kalaupun terjadi tentu itu gak jadi kesalahan eksklusif tekhnisi kita aja kan, tekhnisi asing juga ada kemungkinan melakukan kesalahan yang sama.

    Gitu aja semoga menjawab kekhawatiran mas. :)
  • Angger Atmawarin · 9 months ago
    Dude, nice one.

    Bicara kecelakaan pesawat, saya inget salah satu tulisan di buku Outliers yang nyeritain tentang analisa rate kecelakaan pada maskapai penerbangan. Di situ disimpulin kalau biang kerok terjadinya kecelakaan penerbangan biasanya gak terletak pada skill pilot ataupun kualitas pesawatnya, tapi lebih kepada kultur yang ada di maskapai penerbangan tersebut.
    Negara dengan Power Distance Index yang tinggi seperti Indonesia cenderung punya tingkat rate kecelakaan yang lebih banyak dibanding yang PDI'nya rendah seperti Amerika. Ada juga beberapa faktor yang lain seperti faktor UAI, tapi itupun masih dalam range faktor kultur.

    Tapi kebanyakan orang memang gak berpikir sampai sejauh itu, dan hanya menuding faktor yang kasat mata, kayak fasilitas. Yah, mungkin karena menuding faktor fisik itu emang lebih gampang kali ya, karena itu yang gak membuat kita harus berpikir. Dan cara itu lah yang emang juga saya sering lihat dipakai oleh Detik. Cara yang gak membuat mereka harus berpikir. What a stupid media.